Kualitas Audit dan Penentuannya Berdasarkan Ukuran KAP serta Biaya Audit

Pengertian Kualitas Audit

Sebagaimana dijelaskan oleh De Angelo sebagaimana dikutip oleh Mulyadi (2002), bahwa kualitas audit adalah probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi auditenya. Dalam penelitiannya, Watkins dkk. (2004) telah mengidentifikasi empat buah definisi kualitas audit dari beberapa ahli, yaitu sebagai berikut.

  1. Kualitas audit adalah probabilitas nilaian-pasar bahwa laporan keuangan mengandung kekeliruan material dan auditor akan menemukan dan melaporkan kekeliruan material tersebut.
  2. Kualitas audit merupakan probabilitas bahwa auditor tidak akan melaporkan laporan audit dengan opini wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan yang mengandung kekeliruan material.
  3. Kualitas audit diukur dari akurasi informasi yang dilaporkan oleh auditor.
  4. Kualitas audit ditentukan dari kemampuan audit untuk mengurangi noise dan bias dan meningkatkan kemurnian pada data akuntansi.

Selanjutnya, istilah “kualitas audit” mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Para pengguna laporan keuangan berpendapat bahwa kualitas audit yang dimaksud terjadi jika auditor dapat memberikan jaminan bahwa tidak ada salah saji yang material (no material misstatements) atau kecurangan (fraud) dalam laporan keuangan audit.

Penilaian Kualitas Audit Berdasarkan Ukuran KAP

Sulitnya mengukur kualitas audit, banyak penelitian empiris yang menggunakan beberapa dimensi atau proksi sebagai wakil dari kualitas audit tersebut. Beberapa proksi yang lazim digunakan dalam penelitian mengenai kualitas audit adalah ukuran KAP (Krishnan, 2002; Choi dkk., 2007; Riyatno, 2007; Yuniarti, 2007; Sundgren dan Svanstrom, 2011). Menurut Deis dan Giroux sebagaimana dikutip Watkins dkk. (2004), ukuran KAP dapat diukur berdasarkan jumlah klien dan prosentase dari audit fees dalam usaha mempertahankan kliennya untuk tidak berpindah pada perusahaan audit yang lain. Beberapa penelitian yang menggunakan ukuran KAP sebagai pengukur kualitas audit berhasil membuktikan secara empiris bahwa terdapat perbedaan kualitas antara KAP berukuran besar (Big four accounting firms) dengan KAP berukuran kecil (non big four accounting firms).

Menurut Lennox sebagaimana dikutip Riyatno (2007), ada hubungan positif antara ukuran KAP dan kualitas audit, yaitu alasan reputasi dan deep pocket yang dimiliki oleh KAP besar. Penelitian Lennox telah membuktikan kesesuaian dengan hipotesis reputasi yang berargumen bahwa KAP besar mempunyai insentif lebih besar untuk mengaudit lebih akurat karena mereka memiliki lebih banyak hubungan spesifik dengan klien (client specific rents) yang akan hilang jika mereka memberikan laporan yang tidak akurat. Selain itu karena karena KAP besar memiliki sumber daya atau kekayaan yang lebih besar daripada KAP besar, maka mereka terancam (exposed) oleh tuntutan hukum pihak ketiga yang lebih besar bila menghasilkan laporan audit yang tidak akurat.

Menurut Riyatno (2007), beberapa penelitian di Amerika dan Australia menyebutkan adanya hubungan antara kualitas audit dengan ukuran perusahaan audit dalam kaitannya dengan reputasi perusahaan audit tersebut, yaitu:

  1. Kualitas audit secara langsung berhubungan dengan ukuran dari perusahaan audit, dengan proksi untuk ukuran perusahaan audit adalah jumlah klien. Perusahaan audit yang besar adalah dengan jumlah klien yang lebih banyak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perusahaan audit yang besar akan berusaha untuk menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan audit yang kecil. Karena perusahaan audit yang besar jika tidak memberikan kualitas audit yang tinggi akan kehilangan reputasinya, dan jika ini terjadi maka dia akan mengalami kerugian yang lebih besar dengan kehilangan klien.
  2. Bukti bahwa bank loan officers menganggap bahwa adanya perbedaan dalam reputasi dari accounting firms, dia membedakan antara the big eight group dan non the big eight.
  3. Persepsi dari independen auditor secara signifikan berbeda antara perusahaan audit yang besar dan kecil.
  4. Perusahaan audit yang besar lebih mampu menangkap signal akan penyelewengan keuangan yang terjadi dan mengungkapkannya dalam pendapat audit mereka.
  5. Auditor yang mempunyai kekayaan atau asset yang lebih besar mempunyai dorongan untuk menghasilkan laporan audit yang lebih akurat dibandingkan dengan auditor dengan kekayaan yang lebih sedikit. Auditor yang memiliki kekayaan lebih besar (deeper pockets) adalah audit size firms yang besar.

Menurut DeAngelo sebagaimana dikutip Ebrahim (2001), kualitas audit yang dilakukan oleh akuntan publik dapat dilihat dari ukuran KAP yang melakukan audit. KAP besar (big four accounting firms) dipersepsikan akan melakukan audit dengan lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil (non big four accounting firm). Hal tersebut karena KAP besar memiliki lebih banyak sumber daya dan lebih banyak klien sehingga mereka tidak tergantung pada satu atau beberapa klien saja, selain itu karena reputasinya yang telah dianggap baik oleh masyarakat menyebabkan mereka akan melakukan audit dengan lebih berhati-hati.

Namun demikian, Watkins dkk. (2004) menyebutkan bahwa kepemilikan sumber daya tidak lebih penting daripada penggunaan sumber daya tersebut. Sebuah kantor akuntan besar tidak akan lebih berkualitas dibandingkan dengan kantor akuntan yang lebih kecil jika sumber daya yang dimiliki tidak digunakan untuk memberikan pendapat

secara independen. Seperti kasus Enron/Andersen merupakan salah satu buktinya. Andersen ketika menjadi auditor Enron adalah sebuah kantor akuntan besar dengan sumber daya yang juga besar, namun tidak terbukti digunakan secara independen. Selanjutnya Watkins dkk. (2004) juga menyebutkan bahwa pengertian kualitas audit yang dimaksud oleh

banyak peneliti sebelumnya hanyalah kualitas persepsian, bukan kualitas aktual. Dalam hal ini, Watkins dkk. (2004) menekankan bahwa kata “market-assessed” yang diukur oleh DeAngelo, hanyalah reputasi auditor, bukan kekuatan pemonitoran auditor (auditor monitoring strength). Reputasi auditor adalah apa yang dinilai oleh pasar secara potensial akan dilakukan dan/atau telah dilakukan oleh auditor dalam penugasannya. Dengan kata lain, Watkins dkk., (2004) menolak ukuran kualitas audit persepsian tersebut sejak kasus Enron/Andersen terkuak. Lalu menyebutkan bahwa kualitas auditor versi DeAngelo menjadi tidak lagi valid karena hanya mengukur kualitas dari kepemilikan sumber daya atau dari ukuran kantor akuntan. Hal yang sama juga dibuktikan oleh Yuniarti (2011), yang menyimpulkan bahwa ukuran KAP tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit yang diberikan oleh KAP.

Menurut Watkins dkk. (2004), kualitas audit juga memiliki penggerak dari sisi suplai atau dari sisi auditor. Preferensi auditor terhadap risiko berpengaruh terhadap suplai audit. Semakin tinggi risiko klien, semakin tinggi probabilitas risiko litigasi yang dihadapi auditor jika klien tersebut ternyata tidak mengungkapkan informasi yang benar.

Menurut Carcello dan Nagy (2004), audit atas klien baru memiliki risiko kekeliruan (failure) yang lebih tinggi dibandingkan dengan audit atas klien lama yang telah dikenal auditor. Bukti empiris menunjukkan bahwa kegagalan audit pada tiga tahun pertama lebih besar dibandingkan dengan audit atas klien yang memiliki hubungan yang lebih panjang dengan auditornya. Intinya adalah bahwa auditor sensitif terhadap faktor risiko klien.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa KAP besar cenderung akan menghasilkan audit yang lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan KAP besar dapat menyediakan hasil audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP kecil. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan KAP besar dapat

menyediakan hasil audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP kecil. Sebagai contoh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa KAP besar menghabiskan lebih banyak waktu pada pekerjaan mereka. Hal ini, sebagai akibatnya, telah mengurangi kemungkinan tindakan hukum terhadap mereka. Colbert dan Murray (1999) berpendapat bahwa dalam kualitas audit yang lebih tinggi juga terdapat litigasi yang lebih tinggi pula. Sebagaimana dijelaskan oleh Francis (2004), bahwa kualitas audit merupakan kontinum teoritis, mulai dari kualitas audit yang sangat rendah hingga kualitas audit yang sangat tinggi, dan menyatakan bahwa kegagalan audit biasanya terjadi pada ujung bawah dari kontinum kualitas. Penelitian Palmrose telah mendukung adanya bukti yang menunjukkan bahwa KAP besar lebih jarang

dihadapkan dengan sanksi dari badan pengawas keuangan.

Penilaian Kualitas Audit Berdasarkan Biaya Audit

Berdasarkan Surat Keputusan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) No. KEP.024/IAPI/VII/2008, maka akuntan publik harus menetapkan besaran imbalan yang wajar atas jasa profesional yang diberikannya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam menetapkan imbalan jasa yang wajar sesuai dengan martabat profesi akuntan publik dan dalam jumlah yang pantas untuk dapat memberikan jasa sesuai dengan tuntutan standar profesional akuntan publik yang berlaku. Imbalan jasa yang terlalu rendah atau secara signifikan jauh lebih rendah dari yang dikenakan oleh auditor atau akuntan pendahulu atau dianjurkan oleh auditor atau akuntan lain, akan menimbulkan keraguan mengenai kemampuan dan kompetensi anggota dalam menerapkan standar teknis dan standar profesional yang berlaku.

Menurut Titman dan Trueman sebagaimana dikutip Widiastuti dan Febrianto (2010), ketepatan informasi yang dihasilkan oleh auditor yang diturunkan dari laporan keuangan tergantung pada kualitas auditor. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa auditor yang berkualitas lebih tinggi akan mengenakan audit fee yang lebih tinggi pula. Calon investor akan mendapatkan estimasi yang lebih tepat tentang aliran kas masa depan sebuah perusahaan jika mereka sadar bahwa pilihan pemilik atas kualitas auditor mencerminkan informasi privat yang dimiliki oleh pemilik. Di dalam kondisi ekuilibrium, pemilik akan memiliki insentif untuk memilih auditor dengan level kualitas yang bisa dengan benar mengungkapkan informasi privat mereka. Dengan demikian, makin menguntungkan (favorable) informasi tersebut, makin tinggi kualitas auditor yang dipilih. Hal ini menunjukkan bahwa jika makin berkualitas auditor, maka makin tinggi harga saham perusahaan di pasar perdana.

Menurut Sundgren and Svanstrom (2011), di pasar layanan jasa profesional, kualitas layanan yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi. Setelah mengontrol karakteristik klien yang mempengaruhi biaya audit, seperti ukuran, kompleksitas dan pembagian risiko antara auditor dan klien, maka biaya yang ditetapkan oleh Big Four relatif lebih tinggi dibandingkan KAP lainnya yang lebih kecil. Pada dasarnya, harga yang lebih tinggi tersebut mungkin terjadi karena adanya faktor jumlah usaha audit yang diinvestasikan (jam audit lebih banyak) atau keahlian yang lebih besar (penentuan harga yang lebih tinggi setiap jamnya).

Menurut Hogan dan Wilkins (2008), biaya audit sangat berhubungan dengan risiko bawaan (inherent risk) dan risiko informasi (information risk). Kedua hal ini merupakan dampak dari adanya masalah pengendalian yang dilakukan oleh auditor internal di dalam perusahaan, yang kemudian menyebabkan biaya yang ditetapkan oleh auditor eksternal, misalnya The Big Four, juga meningkat. Selain itu dalam penelitiannya tentang diktonomi kualitas antara The Big Four dan Non-Big Four, Sirois (2009), juga menemukan adanya bukti bahwa audit fee telah menjadi dasar munculnya audit yang berkualitas. Dalam hal ini, Big Four Auditors, yang mana telah menetapkan jumlah fee audit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Non-Big Four Auditors, cenderung mampu menyajikan laporan audit yang lebih berkualitas. Hal ini mungkin lebih diakibatkan karena tingginya kualitas pada auditor yang dimilikiThe Big Four dalam kegiatan auditing. Hasilnya, tingginya kualitas auditor yang dimiliki The Big Four telah menghasilkan persepsi kemampuan dan pengalaman auditing yang lebih tinggi pula. Selanjutnya, sebagaimana The Big Four telah mengalokasikan dana yang lebih besar bagi auditor mereka, para auditor tersebut juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas kinerja mereka.

SIMPULAN

  1. Terdapat adanya hubungan positif antara ukuran KAP terhadap kualitas audit, yaitu:
  2. Tingkat reputasi perusahaan. KAP besar mempunyai insentif lebih besar untuk mengaudit lebih akurat karena mereka memiliki lebih banyak hubungan spesifik dengan klien yang akan hilang jika mereka memberikan laporan yang tidak akurat.
  3. Adanya kekayaan atau aset yang lebih besar yang dimiliki KAP besar juga diindikasi telah menjadi inti kekuatan KAP besar untuk menghasilkan laporan audit yang lebih akurat dibandingkan dengan auditor dengan kekayaan yang lebih sedikit.
  4. Kekuatan KAP besar untuk menghasilkan audit yang berkualitas juga diperkuat adanya sumber daya manusia yang lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil.
  5. KAP besar lebih mempertimbangkan kredibilitasnya saat menerima klien yang memiliki resiko tinggi. Sedangkan KAP kecil lebih berani menerima klien yang memiliki risiko yang lebih tinggi dikarenakan adanya motif hubungan jangka panjang.
  6. Selain ukuran KAP, biaya audit juga telah mempengaruhi kualitas audit yaitu:
  7. Ketepatan informasi yang dihasilkan oleh auditor yang diturunkan dari laporan keuangan tergantung pada kualitas auditor. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa auditor yang berkualitas lebih tinggi akan mengenakanaudit fee yang lebih tinggi pula.
  8. Kualitas layanan yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi tersebut mungkin terjadi karena adanya faktor jumlah usaha audit yang diinvestasikan (jam audit lebih banyak) atau keahlian yang lebih besar (penentuan harga yang lebih tinggi setiap jamnya).
  9. Biaya audit juga sering dikaitkan dengan risiko bawaan (inherent risk) dan risiko informasi (information risk). Kedua hal ini merupakan dampak dari adanya masalah pengendalian yang dilakukan oleh auditor internal di dalam perusahaan, yang kemudian menyebabkan biaya yang ditetapkan oleh auditor eksternal, misalnya The Big Four, juga meningkat.
  10. Adanya kemampuan dan pengalaman auditing yang dimiliki oleh auditor eksternal yang menyebabkan tingginya biaya audit.

Sumber    : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

( http://journal.wima.ac.id/index.php/JIMA/article/view/248 )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s