Langkah-Langkah setelah Sidang Skripsi

  1. Mengurus bebas keuangan
    diloket 26. Yang harus dibawa :
  • Surat bebas keuangan asli
  • KRS semester 8 asli
  • Surat jadwal sidang
  • Blanko asli semester 1-9

Setelah urus bebas keuangan, nanti akan dapat blanko untuk membayar kekurangan sks sebesar Rp 300.000. Setelah bayar blanko tersebut blanko yang warna merah diserahkan kembali ke loket 26.

Jadwal loket bebas keuangan (D41 loket 26)
Senin jam 13.30 – 14.30
Selasa jam 13.30 – 14.30 (khusus pengambilan Pengembalian Uang Kuliah (PUK))
Rabu – Jumat jam 09.30 – 14.30
Istirahat jam 11.30 – 13.30
Sabtu loket tutup

  1. Selesaikan revisi skripsi setelah sidang dan minta acc revisi ke dosen pembimbing dengan membawa skripsi yang sudah direvisi dan 3 lembar surat revisi dari penguji. Surat revisi tersebut akan ditandatangani dosen pembimbing sebagai tanda revisi telah selesai.
  2. Bayar blanko wisuda dan serahkan blanko merah wisuda ke loket 19, sedangkan blanko putihnya disimpan dan jangan sampai hilang. Setelah itu akan dapat kertas warna merah dan putih, yang warna merah untuk pengambilan toga dan warna putih untuk pengambilan undangan wisuda. Sedangkan, bagi yang sudah membayar semester 9 tidak perlu lagi membayar blanko wisuda (uang semester 9 dialihkan ke bayar wisuda). Jadi dapat langsung mengurus bebas keuangan kedua. Sisa kelebihannya diurus setelag daftar wisuda.

    Jadwal loket pendaftaran wisuda (D41 loket 19)
    Selasa dan Kamis jam 09.30 – 15.00
    Sabtu jam 09.30 – 11.30
    Istirahat jam 12.00 – 13.00

  3. Registrasi UG Career Center pada bagian job seeker di http://career.gunadarma.ac.id
  4. Hardcover skripsi dan minta tanda tangan dosen pembimbing di lembar pengesahan. Untuk fomat lembar pengesahan jangan sampai salah.
  5. Upload jurnal (word dan pdf) dan ppt sidang (pdf) di studentsite bagian penulisan ilmiah. Untuk uploadnya terpisah antara jurnal dan ppt sidang, dibedakan untuk jenis penulisannya. Jenis penulisan untuk jurnal yaitu jurnal dan untuk ppt sidang jenis penulisannya dokumen presentasi. Jurnalnya jangan lupa disebelah nama ada npm dan bentuk 2 kolom dari pendahuluan hingga daftar pustaka. Setelah upload akan ada bukti upload dan bukti tersebut diprint untuk dibawa pada saat verifikasi jurnal dan ppt sidang.
  6. Verifikasi jurnal dan ppt sidang ke loket perpus dengan membawa :
  • Hardcover skripsi yang telah ditandatangan dosen pembimbing pada lembar pengesahan.
  • Barcode bukti upload jurnal dan ppt sidang

Setelah verifikasi bukti barcode tersebut dicap dan dikembalikan lagi dengan skripsinya.

Jadwal loket perpustakaan (D31)
Senin – Jumat       09.00 – 11.30
Istirahat :               12.00 – 13.00
Sabtu                        09.00 – 12.00

  1. Meminta tanda tangan Pak Edi di loket 15, yang harus dibawa :
  • Hardcover skripsi
  • Barcode bukti upload jurnal dan ppt sidang
  • Surat revisi 3 lembar
  • Lembar pengesahan 2 lembar yang udah ditandatangan dosen pembimbing. Lembar pengesahan ini digunakan untuk yang ingin membuat hardcover lebih dari 1.

Ambil hardcover skripsi kira-kira seminggu atau lebih di loket 15 dengan menyerahkan krs.

Jadwal loket pendaftaran sidang & meminta ttd Pak Edi (D41 loket 15)
Senin , Jumat       13.30 – 14.30
Selasa – Kamis     10.00 – 14.30
Istirahat jam         11.30 -13.30

 

  1. Scan lembar pengesahan yang sudah ditandatangani dosen pembimbing dan Pak Edi. Setelah itu upload skripsi lengkap dari cover sampai lampiran (pdf) dengan jenis penulisannya skripsi. Untuk upload skripsi ini tidak ada barcode.
  2. Verifikasi skripsi yang sudah dipload dengan membawa :
  • Hardcover skripsi
  • Surat jadwal sidang
  • Barcode bukti jurnal dan ppt sidang

Setelah diverifikasi akan dapat blanko sumbangan buku dan dibayarkan ke Bank DKI sebesar Rp 50.000. Blanko merah sumbangan buku dikembalikan ke bagian loket perpus sedangkan blanko yang putih disimpan untuk syarat pengambilan transkrip nilai dan ijazah.

  1. Ambil transkrip nilai dan legalisir. Syarat pengambilan transkrip nilai :
  • Surat jadwal sidang asli
  • Bukti sudah menyumbang buku
  • Bukti sudah aktivasi di Career Centre
  • Bukti pembayaran wisuda asli

Jadwal pelayanan loket transkrip dan ijazah (D21)
Senin, Selasa, Jumat       Pagi : 09.30 WIB – 11.30 WIB
Siang : 13.30 WIB – 15.00 WIB
Sabtu                                 09.30 WIB – 11.30 WIB
Rabu & Kamis loket tutup

 

  1. Gladi resik sebelum wisuda, bawa cv untuk ug career dan kertas warna putih yang didapat dari loket pendaftaran wisuda untuk pengambilan undangan.
  2. Pelaksanaan wisuda.
  3. Pengambilan ijazah, ijazah baru ada kira-kira 2 atau 3 bulan setelah sidang.

Syarat pengambilan ijazah :

  • Surat jadwal sidang asli
  • Bukti sudah menyumbang buku
  • Bukti sudah aktivasi di Career Centre
  • Bukti pembayaran wisuda asli

 

  1. Proses legalisir :
  • Memasukkan foto copy ijazah/transkrip/surat keterangan yang mau dilegalisir sebanyak lima lembar untuk setiap berkas dan harus dilampirkan berkas yang asli.
  • Tunggu sampai diberi tanda terima dan berkas yang asli diserahkan kembali (berkas yang ditinggal tidak akan diproses dan kehilangan bukan tanggung jawab petugas loket)
  • Hasil legalisir dapat diambil dengan memasukan tanda terima yang sudah diisi lengkap identitasinya.
  • Selalu sediakan berkas legalisir sewaktu-waktu perlukan, saudara sudah memiliki berkas yang dilegalisir.

Syarat meminta fotocopy sertifikat akreditasi BAN PT :

  • Copy ijazah / transkrip 1 lembar
  • Atau copy KRS

 

Dikutip dari berbagai sumber.

 

Advertisements

REVIEW English Business 2 – Semester 8

I. MODAL AUXILIARIES

Modal Auxiliaries adalah kata kerja bantu seperti akan, mungkin, bisa, dapat, harus, akan, digunakan untuk, perlu digunakan dalam hubungannya dengan kata kerja utama untuk mengekspresikan nuansa waktu dan suasana hati. Kombinasi membantu verba dengan verba utama menciptakan apa yang disebut frasa verba atau kata kerja string.

  • Kata kerja yang digunakan setelah modal adalah V-1 murni tanpa to (bare infinitive), contoh:

Doni must to help Rina.    incorrect

Doni must help Rina.         correct

  • Modal tidak bisa ditambah dengan s/es/ed/ing, contoh:

Prita cans speak English.

MODAL

* Will         (akan)

* Would     (akan/seharusnya)

* Can          (dapat)

* May         (boleh)

* Must        (harus)

* Dare        (berani)

* Used to    (terbiasa)

* Shall                      (akan)

* Should                 (akan/seharunya)

* Could                   (dapat)

* Might                    (boleh)

* Need                     (perlu)

* Ought to               (seharusnnya)

* Had better              (lebih baik)

Rumus Verbal Rumus Nominal
(+) S + Modal + V-1 + O

(-) S + Modal + not + V-1 + O

(?) Modal + S + V-1 + O ?

Examples:

(+) Dad can sing a love song.

( -) Dad cannot sing a love song.

(?) Can Dad sing a love song?

(+) S + Modal + BE + C

( -) S + Modal + not + BE + C

(?) Modal + S + BE + C ?

Examples:

(+) Bara can be a scientist.

( -) Bara cannot be a scientist.

(?) can Bara be a scientist?

Contoh kalimat:

ABILITY (Can, Could)
I can sing.

POSIBILITY (May,Might)
I may find another one.

ASKING FOR PERMISSION (May I……?, Can I……?
May I take this plate?

REQUEST (Can you?, Will you?, Could you?, Would you?)
Can you help me to wash this shoes?

SUGGESTION (Should, Had better)
You should buy me some food.

NECESSITY (Must, Have to)
You must feed your fish every morning.

UNECESSITY (Don’t have to)
You don’t have to buy a new cloth.

PROHIBITION (Must not)
You must not scream in the library.

CONCLUSION (Must)
She has cleaned all of the rooms, she must be tired.

  • Bentuk Negatif
    • must –>  needn’t
    • ought to –> ought not to     atau     oughtn’t to
    • used to –>  usedn’t to    atau     didn’t use to.
    • had better –>  had better not   atau   hadn’t better.
  • Fungsi can, sebagai :
    • modal yang berarti dapat
    • kata kerja yang berarti mengaleng(kan)
    • sebagai kata benda yang berarti kaleng.
  • Fungsi must , sebagai:
    • modal: harus
    • kata benda
  • Fungsi may, sebagai:
    •  boleh
    • semoga
    • bulan mei
    • Maybe: mungkin.
  • Fungsi need, sebagai:
    • modal: perlu
    • verb: memerlukan
    • noun: keperluan

II. QUESTION TAG

Question tag adalah pertanyaan pendek yang ditambahkan di akhir pernyataan (declarative sentence) untuk menanyakan informasi atau meminta persetujuan.

Seperti idiom (ungkapan bahasa Inggris), question tag merupakan bagian yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari seorang native speaker. Walaupun grammar pronounciation, dan intonation-nya baik, seseorang dapat mudah dikenali bukan sebagai native speaker jika tidak menggunakan question tag.

  1. AFFIRMATIVE NEGATIVE
    • You know bob Wilson, don’you ? Yes, I do
    • You stay in Bandung, don’t you ? Yes, I do
    • Marie is from US, isn’t she ? Yes, she is
    • Claudia on birthday until next week, isn’t she ? Yes, she is
  2. NEGATIVE AFFIRMATIVE
    • Tom and jerry can’t speak Arabic, can they ? No, they can’t
    • Nadia didn’t come to class, did she ? No, she didn’t
    • We want to make friendship, don’t we ? Yes, we do

Exercise:

  • You’are a chef, aren’t you ? Yes, I am
  • Shinta lives in the dorm, doesn’t she ? Yes, she does
  • Mrs. Chou is at work now, isn’t she ? Yes, she is
  • Our teacher didn’t give us a homework, did he ? No, he didn’t
  • This is your blouse, isn’t it ? Yes, it is
  • Those are your shoes, aren’t they ? Yes, they are
  • Caca can sing a blues song, can’t she? Yes,she can
  • You should write a letter to your mom, shouldn’t you ? Yes, I should
  • That was an hard question, wasn’t it ? Yes, it was
  • This isn’t a easy exercise, is it ? No, it isn’t

III. ARTICLES

A, An dan the (articles) adalah kata sandang yang digunakan untuk membatasi pengertian dari kata benda (Noun). Artikel juga adalah kata sandang  yang digunakan untuk memodifikasi kata benda, orang, tempat, atau ide atau sebuah gagasan.

Secara teknis, artikel adalah kata sifat (Adjective) ,  yang dapat  memodifikasi kata benda.Biasanya kata sifat mengubah kata melalui deskripsinya,  Ada beberapa jenis artikel yang dapat kita gunakan dalam penulisan dan percakapan untuk menunjukkan atau merujuk kepadakata atau kelompok kata.

 

A

AN THE

SOME

One/singular One/singular specific Not specific
Before consonant Before vowel Before consonant/vocal Plural count noun
general general Count/uncount noun
Count noun Count noun
Example :

1.      A dog makes a good pet

2.      A banana is yellow

Example :

1.      She buys an apple

2.      The lion is an animal

Example :

1.      The pencil on the desk is jim’s

2.      Please give me the book

3.      The daughter is a doctor

Example :

1.      I saw some cats in my yard (plural count)

2.      I buy some fruit (Noncount nou

IV. PASSIVE VOICE

Passive voice ( Kalimat pasif ) adalah salah satu kalimat yang sering di gunakan dalam bahasa Inggris. Passive voice juga terdapat pada bahasa Indonesia, misalnya makan menjadi dimakan, minum menjadi diminum.

Cara membentuk kalimat pasif adalah sebagai berikut :

  1. Mengubah objek dalam aktif menjadi subjek dalam bentuk pasif.
  2. Meletakkan by sesudah kata kerja utama dalam bentuk pasif sebelum subjek.
  3. Kata kerja yang dipakai adalah verb 3 yang didahului to be.
  4. Menyusun kalimat menyesuakan tenses.

Dalam bahasa Inggris terdapat bentuk yaitu:

TENSES

ACTIVE

PASSIVE

Simple present

(S+V1+O)

The students discuss the problem every morning The problem is discussed by the students every morning
Present continous

(S+to be+V.ing)

The students are discussing the problem now The problem is being discussed by the students now
Simple past

(S+V2)

The students discussed the problem yesterday The problem was discussed by the students yesterday
Past Continous

(S+be 2 + V.ing )

The students were discussing the problem yesterday The problem was being discussed by the students yesterday
Future tense

(S+will)

The students will discuss the problem tomorrow The problem will be discussed bye the students tomorrow

 

V. DIRECT & INDIRECT SPEECH

Direct & Indirect speech yang lebih di kenal dengan kalimat langsung dan kalimat tak langsung yang di gunakan ketika seseorang ingin menceritakan apa yang telah di katakana oleh seseorang kepada orang lain. Baiklah, pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai Direct & Indirect speech secara mudah dalam artikel berikut ini :

Direct and Indirect Speech, yang juga kita kenal dengan istilah lain yaitu Reported Speech. Direct Speect adalah kalimat yang diucapkan secara langsung oleh pembicara dan ditulis dengan tanda kutip.SedangkanIndirect Speech adalah kalimat yang diucapkan secara tidak langsung oleh pembicara tanpa diberi koma.

  1. Simple Present diubah menjadi Simple Past
    • Direct    : she said, “I buy a pen.”
    • Indirect : she said that she bought a pen.
  1. Present Continuous Tense diubah menjadi Past Continuous Tense
    • Direct    : she said, “ I am buying a pen.”
    • Indirect : she said that she was buying a pen.
  1. Present Perfect Tense diubah menjadi Past Perfect Tense
    • Direct    : she said, ‘ I have bought a pen.”
    • Indirect  : she said that she had bought a pen.
  1. Present Perfect Continuous Tense diubah menjadi Past Perfect Continuous Tense
    • Direct    : she said, “ I have been buying a pen since 6 o’clock.”
    • Indirect : she said that she had been buying a pen since 6 o’clock.
  1. Simple Past Tense diubah menjadi Past Perfect Tense
    • Direct    : she said, “ I bought a pen.”
    • Indirect : she said that she had bought a pen.
  1. Simple Future Tense diubah menjadi Past Future Tense
    • Direct    : she said, “ I will buy a pen.”
    • Indirect : she said that she would buy a pen.
  1. Future Continuous Tense diubah menjadi Past Future Continuous Tense
    • Direct    : he said, “ I will be buying a pen.”
    • Indirect : she said that she would be buying a pen.

 

HAYYU ANNISA
4EA34
13213984

 

Question Tag – CONVERSATION

In the morning, Mila and Novia went to college together. When they arrived, they met Teguh and Yoga in the parking lot.

Yoga                           : Hi, good morning..

Mila and Novia           : Morning!

Teguh                          : Mila, you usually gets the motorcyle to college, doesn’t you?

Mila                             : Yes, I do. But today I’m so lazy to drive. So, I come with novia.

Teguh                          : Oh, let’s go to class.

In class, they met Sopyan and Hayyu.

Sopyan                        : Hi guys..

Novia and Mila           : Hi..

Sopyan                        : We got a lot of homework.

Hayyu                         : Oh, I forgot it! I will do it now. You haven’t finished it, have you?

Sopyan                        : No, I haven’t. How about you, Novia? You have finished it, haven’t you?

Novia                          : Yes, I have.

Sopyan                        : May i see yours?

Novia                          : Of course.

Teguh                          : You are serious, aren’t  you?

Novia                          : Yes, I am. Take it.

Sopyan                        : Thank you, you are so nice.

Novia                          : You’re welcome.

Yoga                           : Mil, you and Novia know that the time of the exam has changed,                               don’t you?

Mila                             : Yes, we do. What if we learn together?

Yoga                           : That’s a good idea.

Hayyu                         : Anyway, we will go to Supermall Karawaci after class, don’t we?

Mila                             : Yes, We do. But you haven’t told your mom, have you?

Hayyu                         : No, I haven’t. I will tell her now. Novia will be join us, won’t she?

Mila                             : Yes, she will.

Hayyu                         : Alright!

  • Hayyu Annisa     4EA34
  • Mila Ziel Rukhama     4EA34
  • Novia Putri Utami     4EA34
  • Mohamad Sofyan     4EA34
  • Teguh Radiansyah    4EA34
  • Bonifasius Yoga P     4EA35

THE WORLD ECONOMY IS NOT IN GOOD SHAPE

The news from America and Britain has been reasonably positive, but Japan’s economy is struggling and China’s growth is now slower than at any time since 2009. Unpredictable dangers abound, particularly from the Ebola epidemic, which has killed thousands in West Africa and jangled nerves far beyond. But the biggest economic threat, by far, comes from continental Europe.

Now that German growth has stumbled, the euro area is on the verge of tipping into its third recession in six years. Its leaders have squandered two years of respite, granted by the pledge of Mario Draghi, the European Central Bank’s president, to do “whatever it takes” to save the single currency. The French and the Italians have dodged structural reforms, while the Germans have insisted on too much austerity. Prices are falling in eight European countries. The zone’s overall inflation rate has slipped to 0.3% and may well go into outright decline next year. A region that makes up almost a fifth of world output is marching towards stagnation and deflation.

Optimists, both inside and outside Europe, often cite the example of Japan. It fell into deflation in the late-1990s, with unpleasant but not apocalyptic consequences for both itself and the world economy. But the euro zone poses far greater risks. Unlike Japan, the euro zone is not an isolated case: from China to America inflation is worryingly low, and slipping. And, unlike Japan, which has a homogenous, stoic society, the euro area cannot hang together through years of economic sclerosis and falling prices. As debt burdens soar from Italy to Greece, investors will take fright, populist politicians will gain ground, and—sooner rather than later—the euro will collapse.

Although many Europeans, especially the Germans, have been brought up to fear inflation, deflation can be still more savage (see article). If people and firms expect prices to fall, they stop spending, and as demand sinks, loan defaults rise. That was what happened in the Great Depression, with especially dire consequences in Germany in the early 1930s.

So it is worrying that, of the 46 countries whose central banks target inflation, 30 are below their target. Some price falls are welcome. Tumbling oil prices, in particular, have given consumers’ incomes a boost (see article). But slowing prices and stagnant wages owe more to weak demand in the economy and roughly 45m workers are jobless in the rich OECD countries. Investors are starting to expect lower inflation even in economies, such as America’s, that are growing at reasonable rates. Worse, short-term interest rates are close to zero in many economies, so central banks cannot cut them to boost spending. The only ammunition comes from quantitative easing and other forms of printing money.

The global lowflation threat is a good reason for most central banks to keep monetary policy loose. It is also, in the longer term, a prompt to look at revising inflation targets a shade upwards. But the immediate problem is the euro area.

Continental Europe’s economy has plenty of big underlying weaknesses, from poor demography to heavy debt and sclerotic labour markets. But it has also made enormous policy mistakes. France, Italy and Germany have all eschewed growth-enhancing structural reforms. The euro zone is particularly vulnerable to deflation because of Germany’s insistence on too much fiscal austerity and the ECB’s timidity. Even now, with economies contracting, Germany is still obsessed with deficit reduction for all governments, while its opposition to monetary easing has meant that the ECB, to the obvious despair of Mr Draghi, has done far less than other big central banks in terms of quantitative easing (notwithstanding this week’s move to start buying “covered bonds”).

If there was ever logic to this incrementalism, it has run out. As budgets shrink and the ECB struggles to convince people that it can stop prices slipping, a descent into deflation seems all too probable. Signs of stress are beginning to appear in both the markets and politics. Bond yields in Greece have risen sharply, as support for the left-wing Syriza party has surged (see article). France and Germany are trading rhetorical blows over a new budget proposal coming out of Paris.

If Europe is to stop its economy getting worse, it will have to stop its self-destructive behaviour. The ECB needs to start buying sovereign bonds. Germany’s chancellor, Angela Merkel, should allow France and Italy to slow the pace of their fiscal cuts; in return, those countries should accelerate structural reforms. Germany, which can borrow money at negative real interest rates, could spend more building infrastructure at home.

That would help, but not be enough. It is a bit like the early years of the euro debacle, before Mr Draghi’s whatever-it-takes pledge, when half-solutions only fed the crisis. Something radical is needed. The hitch is that European law bans many textbook solutions, such as ECB purchases of newly issued government bonds. The best legal option is to couple a dramatic increase in infrastructure spending with bond-buying by the ECB. Thus the European Investment Bank could launch a big (say €300 billion, or $383 billion) expansion in investments such as faster cross-border rail links or more integrated electricity grids—and raise the money by issuing bonds, which the ECB could buy in the secondary market. Another possibility would be to redefine the EU’s deficit rules to exclude investment spending, which would allow governments to run bigger deficits, again with the ECB providing a backstop.

Behind all this sits a problem of political will (see article). Mrs Merkel and the Germans seem prepared to take action only when the single currency is on the verge of catastrophe. Throughout Europe people are hurting—in Italy and Spain youth unemployment is above 40%. Voters vented their fury with the established order in the EU’s parliamentary elections earlier this summer, and got very little change. Another descent into the abyss will test their patience. And once deflation has an economy in its jaws, it is very hard to shake off. Europe’s leaders are running out of time.

 

 

The word in orange color are Modals Auxilary

Article from: economist.com

 

 

HAYYU ANNISA
4EA34
13213984

Kualitas Audit dan Penentuannya Berdasarkan Ukuran KAP serta Biaya Audit

Pengertian Kualitas Audit

Sebagaimana dijelaskan oleh De Angelo sebagaimana dikutip oleh Mulyadi (2002), bahwa kualitas audit adalah probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi auditenya. Dalam penelitiannya, Watkins dkk. (2004) telah mengidentifikasi empat buah definisi kualitas audit dari beberapa ahli, yaitu sebagai berikut.

  1. Kualitas audit adalah probabilitas nilaian-pasar bahwa laporan keuangan mengandung kekeliruan material dan auditor akan menemukan dan melaporkan kekeliruan material tersebut.
  2. Kualitas audit merupakan probabilitas bahwa auditor tidak akan melaporkan laporan audit dengan opini wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan yang mengandung kekeliruan material.
  3. Kualitas audit diukur dari akurasi informasi yang dilaporkan oleh auditor.
  4. Kualitas audit ditentukan dari kemampuan audit untuk mengurangi noise dan bias dan meningkatkan kemurnian pada data akuntansi.

Selanjutnya, istilah “kualitas audit” mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Para pengguna laporan keuangan berpendapat bahwa kualitas audit yang dimaksud terjadi jika auditor dapat memberikan jaminan bahwa tidak ada salah saji yang material (no material misstatements) atau kecurangan (fraud) dalam laporan keuangan audit.

Penilaian Kualitas Audit Berdasarkan Ukuran KAP

Sulitnya mengukur kualitas audit, banyak penelitian empiris yang menggunakan beberapa dimensi atau proksi sebagai wakil dari kualitas audit tersebut. Beberapa proksi yang lazim digunakan dalam penelitian mengenai kualitas audit adalah ukuran KAP (Krishnan, 2002; Choi dkk., 2007; Riyatno, 2007; Yuniarti, 2007; Sundgren dan Svanstrom, 2011). Menurut Deis dan Giroux sebagaimana dikutip Watkins dkk. (2004), ukuran KAP dapat diukur berdasarkan jumlah klien dan prosentase dari audit fees dalam usaha mempertahankan kliennya untuk tidak berpindah pada perusahaan audit yang lain. Beberapa penelitian yang menggunakan ukuran KAP sebagai pengukur kualitas audit berhasil membuktikan secara empiris bahwa terdapat perbedaan kualitas antara KAP berukuran besar (Big four accounting firms) dengan KAP berukuran kecil (non big four accounting firms).

Menurut Lennox sebagaimana dikutip Riyatno (2007), ada hubungan positif antara ukuran KAP dan kualitas audit, yaitu alasan reputasi dan deep pocket yang dimiliki oleh KAP besar. Penelitian Lennox telah membuktikan kesesuaian dengan hipotesis reputasi yang berargumen bahwa KAP besar mempunyai insentif lebih besar untuk mengaudit lebih akurat karena mereka memiliki lebih banyak hubungan spesifik dengan klien (client specific rents) yang akan hilang jika mereka memberikan laporan yang tidak akurat. Selain itu karena karena KAP besar memiliki sumber daya atau kekayaan yang lebih besar daripada KAP besar, maka mereka terancam (exposed) oleh tuntutan hukum pihak ketiga yang lebih besar bila menghasilkan laporan audit yang tidak akurat.

Menurut Riyatno (2007), beberapa penelitian di Amerika dan Australia menyebutkan adanya hubungan antara kualitas audit dengan ukuran perusahaan audit dalam kaitannya dengan reputasi perusahaan audit tersebut, yaitu:

  1. Kualitas audit secara langsung berhubungan dengan ukuran dari perusahaan audit, dengan proksi untuk ukuran perusahaan audit adalah jumlah klien. Perusahaan audit yang besar adalah dengan jumlah klien yang lebih banyak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perusahaan audit yang besar akan berusaha untuk menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan audit yang kecil. Karena perusahaan audit yang besar jika tidak memberikan kualitas audit yang tinggi akan kehilangan reputasinya, dan jika ini terjadi maka dia akan mengalami kerugian yang lebih besar dengan kehilangan klien.
  2. Bukti bahwa bank loan officers menganggap bahwa adanya perbedaan dalam reputasi dari accounting firms, dia membedakan antara the big eight group dan non the big eight.
  3. Persepsi dari independen auditor secara signifikan berbeda antara perusahaan audit yang besar dan kecil.
  4. Perusahaan audit yang besar lebih mampu menangkap signal akan penyelewengan keuangan yang terjadi dan mengungkapkannya dalam pendapat audit mereka.
  5. Auditor yang mempunyai kekayaan atau asset yang lebih besar mempunyai dorongan untuk menghasilkan laporan audit yang lebih akurat dibandingkan dengan auditor dengan kekayaan yang lebih sedikit. Auditor yang memiliki kekayaan lebih besar (deeper pockets) adalah audit size firms yang besar.

Menurut DeAngelo sebagaimana dikutip Ebrahim (2001), kualitas audit yang dilakukan oleh akuntan publik dapat dilihat dari ukuran KAP yang melakukan audit. KAP besar (big four accounting firms) dipersepsikan akan melakukan audit dengan lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil (non big four accounting firm). Hal tersebut karena KAP besar memiliki lebih banyak sumber daya dan lebih banyak klien sehingga mereka tidak tergantung pada satu atau beberapa klien saja, selain itu karena reputasinya yang telah dianggap baik oleh masyarakat menyebabkan mereka akan melakukan audit dengan lebih berhati-hati.

Namun demikian, Watkins dkk. (2004) menyebutkan bahwa kepemilikan sumber daya tidak lebih penting daripada penggunaan sumber daya tersebut. Sebuah kantor akuntan besar tidak akan lebih berkualitas dibandingkan dengan kantor akuntan yang lebih kecil jika sumber daya yang dimiliki tidak digunakan untuk memberikan pendapat

secara independen. Seperti kasus Enron/Andersen merupakan salah satu buktinya. Andersen ketika menjadi auditor Enron adalah sebuah kantor akuntan besar dengan sumber daya yang juga besar, namun tidak terbukti digunakan secara independen. Selanjutnya Watkins dkk. (2004) juga menyebutkan bahwa pengertian kualitas audit yang dimaksud oleh

banyak peneliti sebelumnya hanyalah kualitas persepsian, bukan kualitas aktual. Dalam hal ini, Watkins dkk. (2004) menekankan bahwa kata “market-assessed” yang diukur oleh DeAngelo, hanyalah reputasi auditor, bukan kekuatan pemonitoran auditor (auditor monitoring strength). Reputasi auditor adalah apa yang dinilai oleh pasar secara potensial akan dilakukan dan/atau telah dilakukan oleh auditor dalam penugasannya. Dengan kata lain, Watkins dkk., (2004) menolak ukuran kualitas audit persepsian tersebut sejak kasus Enron/Andersen terkuak. Lalu menyebutkan bahwa kualitas auditor versi DeAngelo menjadi tidak lagi valid karena hanya mengukur kualitas dari kepemilikan sumber daya atau dari ukuran kantor akuntan. Hal yang sama juga dibuktikan oleh Yuniarti (2011), yang menyimpulkan bahwa ukuran KAP tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit yang diberikan oleh KAP.

Menurut Watkins dkk. (2004), kualitas audit juga memiliki penggerak dari sisi suplai atau dari sisi auditor. Preferensi auditor terhadap risiko berpengaruh terhadap suplai audit. Semakin tinggi risiko klien, semakin tinggi probabilitas risiko litigasi yang dihadapi auditor jika klien tersebut ternyata tidak mengungkapkan informasi yang benar.

Menurut Carcello dan Nagy (2004), audit atas klien baru memiliki risiko kekeliruan (failure) yang lebih tinggi dibandingkan dengan audit atas klien lama yang telah dikenal auditor. Bukti empiris menunjukkan bahwa kegagalan audit pada tiga tahun pertama lebih besar dibandingkan dengan audit atas klien yang memiliki hubungan yang lebih panjang dengan auditornya. Intinya adalah bahwa auditor sensitif terhadap faktor risiko klien.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa KAP besar cenderung akan menghasilkan audit yang lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan KAP besar dapat menyediakan hasil audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP kecil. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan KAP besar dapat

menyediakan hasil audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP kecil. Sebagai contoh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa KAP besar menghabiskan lebih banyak waktu pada pekerjaan mereka. Hal ini, sebagai akibatnya, telah mengurangi kemungkinan tindakan hukum terhadap mereka. Colbert dan Murray (1999) berpendapat bahwa dalam kualitas audit yang lebih tinggi juga terdapat litigasi yang lebih tinggi pula. Sebagaimana dijelaskan oleh Francis (2004), bahwa kualitas audit merupakan kontinum teoritis, mulai dari kualitas audit yang sangat rendah hingga kualitas audit yang sangat tinggi, dan menyatakan bahwa kegagalan audit biasanya terjadi pada ujung bawah dari kontinum kualitas. Penelitian Palmrose telah mendukung adanya bukti yang menunjukkan bahwa KAP besar lebih jarang

dihadapkan dengan sanksi dari badan pengawas keuangan.

Penilaian Kualitas Audit Berdasarkan Biaya Audit

Berdasarkan Surat Keputusan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) No. KEP.024/IAPI/VII/2008, maka akuntan publik harus menetapkan besaran imbalan yang wajar atas jasa profesional yang diberikannya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam menetapkan imbalan jasa yang wajar sesuai dengan martabat profesi akuntan publik dan dalam jumlah yang pantas untuk dapat memberikan jasa sesuai dengan tuntutan standar profesional akuntan publik yang berlaku. Imbalan jasa yang terlalu rendah atau secara signifikan jauh lebih rendah dari yang dikenakan oleh auditor atau akuntan pendahulu atau dianjurkan oleh auditor atau akuntan lain, akan menimbulkan keraguan mengenai kemampuan dan kompetensi anggota dalam menerapkan standar teknis dan standar profesional yang berlaku.

Menurut Titman dan Trueman sebagaimana dikutip Widiastuti dan Febrianto (2010), ketepatan informasi yang dihasilkan oleh auditor yang diturunkan dari laporan keuangan tergantung pada kualitas auditor. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa auditor yang berkualitas lebih tinggi akan mengenakan audit fee yang lebih tinggi pula. Calon investor akan mendapatkan estimasi yang lebih tepat tentang aliran kas masa depan sebuah perusahaan jika mereka sadar bahwa pilihan pemilik atas kualitas auditor mencerminkan informasi privat yang dimiliki oleh pemilik. Di dalam kondisi ekuilibrium, pemilik akan memiliki insentif untuk memilih auditor dengan level kualitas yang bisa dengan benar mengungkapkan informasi privat mereka. Dengan demikian, makin menguntungkan (favorable) informasi tersebut, makin tinggi kualitas auditor yang dipilih. Hal ini menunjukkan bahwa jika makin berkualitas auditor, maka makin tinggi harga saham perusahaan di pasar perdana.

Menurut Sundgren and Svanstrom (2011), di pasar layanan jasa profesional, kualitas layanan yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi. Setelah mengontrol karakteristik klien yang mempengaruhi biaya audit, seperti ukuran, kompleksitas dan pembagian risiko antara auditor dan klien, maka biaya yang ditetapkan oleh Big Four relatif lebih tinggi dibandingkan KAP lainnya yang lebih kecil. Pada dasarnya, harga yang lebih tinggi tersebut mungkin terjadi karena adanya faktor jumlah usaha audit yang diinvestasikan (jam audit lebih banyak) atau keahlian yang lebih besar (penentuan harga yang lebih tinggi setiap jamnya).

Menurut Hogan dan Wilkins (2008), biaya audit sangat berhubungan dengan risiko bawaan (inherent risk) dan risiko informasi (information risk). Kedua hal ini merupakan dampak dari adanya masalah pengendalian yang dilakukan oleh auditor internal di dalam perusahaan, yang kemudian menyebabkan biaya yang ditetapkan oleh auditor eksternal, misalnya The Big Four, juga meningkat. Selain itu dalam penelitiannya tentang diktonomi kualitas antara The Big Four dan Non-Big Four, Sirois (2009), juga menemukan adanya bukti bahwa audit fee telah menjadi dasar munculnya audit yang berkualitas. Dalam hal ini, Big Four Auditors, yang mana telah menetapkan jumlah fee audit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Non-Big Four Auditors, cenderung mampu menyajikan laporan audit yang lebih berkualitas. Hal ini mungkin lebih diakibatkan karena tingginya kualitas pada auditor yang dimilikiThe Big Four dalam kegiatan auditing. Hasilnya, tingginya kualitas auditor yang dimiliki The Big Four telah menghasilkan persepsi kemampuan dan pengalaman auditing yang lebih tinggi pula. Selanjutnya, sebagaimana The Big Four telah mengalokasikan dana yang lebih besar bagi auditor mereka, para auditor tersebut juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas kinerja mereka.

SIMPULAN

  1. Terdapat adanya hubungan positif antara ukuran KAP terhadap kualitas audit, yaitu:
  2. Tingkat reputasi perusahaan. KAP besar mempunyai insentif lebih besar untuk mengaudit lebih akurat karena mereka memiliki lebih banyak hubungan spesifik dengan klien yang akan hilang jika mereka memberikan laporan yang tidak akurat.
  3. Adanya kekayaan atau aset yang lebih besar yang dimiliki KAP besar juga diindikasi telah menjadi inti kekuatan KAP besar untuk menghasilkan laporan audit yang lebih akurat dibandingkan dengan auditor dengan kekayaan yang lebih sedikit.
  4. Kekuatan KAP besar untuk menghasilkan audit yang berkualitas juga diperkuat adanya sumber daya manusia yang lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil.
  5. KAP besar lebih mempertimbangkan kredibilitasnya saat menerima klien yang memiliki resiko tinggi. Sedangkan KAP kecil lebih berani menerima klien yang memiliki risiko yang lebih tinggi dikarenakan adanya motif hubungan jangka panjang.
  6. Selain ukuran KAP, biaya audit juga telah mempengaruhi kualitas audit yaitu:
  7. Ketepatan informasi yang dihasilkan oleh auditor yang diturunkan dari laporan keuangan tergantung pada kualitas auditor. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa auditor yang berkualitas lebih tinggi akan mengenakanaudit fee yang lebih tinggi pula.
  8. Kualitas layanan yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi tersebut mungkin terjadi karena adanya faktor jumlah usaha audit yang diinvestasikan (jam audit lebih banyak) atau keahlian yang lebih besar (penentuan harga yang lebih tinggi setiap jamnya).
  9. Biaya audit juga sering dikaitkan dengan risiko bawaan (inherent risk) dan risiko informasi (information risk). Kedua hal ini merupakan dampak dari adanya masalah pengendalian yang dilakukan oleh auditor internal di dalam perusahaan, yang kemudian menyebabkan biaya yang ditetapkan oleh auditor eksternal, misalnya The Big Four, juga meningkat.
  10. Adanya kemampuan dan pengalaman auditing yang dimiliki oleh auditor eksternal yang menyebabkan tingginya biaya audit.

Sumber    : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

( http://journal.wima.ac.id/index.php/JIMA/article/view/248 )

DAMPAK TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP ETIKA BISNIS

PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Tanggung jawab sosial suatu perusahaan atau Corporate Social Responsibility merupakan suatu komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan komunitas lokal. Selain itu, Corporation Social Responsibility juga merupakan konsep bahwa organisasi dan perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Bentuk tanggung jawab yang ada disesuaikan dengan objeknya masing-masing.

ASPEK PENDORONG TANGGUNG JAWAB SOSIAL                                    

Klasifikasi masalah sosial yang mendorong pelaksanaan tanggung jawab sosial pada sebuah bisnis sebagai berikut:
1.  Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan
Kegiatan intern yang muncul bersifat sangat kaku, keras, zakeliyk (saklek), birokratik, dan otoriter                                                                                                                                     Manfaat Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan

– Peningkatan moral kerja karyawan yang berakibat membaiknya semangat dan produktivitas kerja.
– Adanya partisipasi bawahan dan timbulnya rasa ikut memiliki sehingga tercipta kondisi manajemen Partisipatif
– Penurunan absen karyawan yang disebabkan kenyamanan kerja sebagai hasil hubungan kerja yang menyenangkan dan baik.
– Peningkatan mutu produksi yang diakibatkan oleh terbentuknya rasa percaya diri karyawan.
–  Kepercayaan konsumen yang meningkat dan merupakan modal dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perusahaan.

  1. Ekologi dan gerakan pelestarian lingkungan
    Ekologi yang menitikberatkan pada keseimbangan antara manusia dan alam lingkungannya banyak di pengaruhi oleh proses produksi.
  2. Penghematan energi
    Pengurasan secara besar-besaran energi yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti batubara, minyak, dan gas telah banyak terjadi. Kesadaran bahwa sumber daya tersebut tidak dapat diperbaharui telah mendorong dilaksanakannya proses efisiensi serta mencari pengganti sumber daya tersebut.
  3. Partisipasi pembangunan bangsa
    Kesadaran masyarakat pebisnis terhadap suksesnya pembangunan sangat diperlukan. Karena dengan adanya kesadaran tersebut, akan membantu pemerintah menangani masalah pengangguran dengan cara ikut melibatkan penggunaan tenaga kerja yang ada.
  4. Gerakan Konsumerisme
    Awal perkembangannya tahun 1960-an di negara barat yang berhasil memberlakukan Undang-undang Perlindungan Konsumen yang meliputi beragam aspek.

Tujuan dari gerakan konsumerisasi:
– Memperoleh perhatian dan tindakan nyata dari kalangna bisnis terhadap keluhan            konsumen atas praktek bisnisnya.
– Pelaksanaan strategi advertensi/periklanan yang realistic dan mendidik serta tidak menyesatkan masyarakat.
– Diselenggarakan panel-panel diskusi antara wakil konsumen dengan produsen.
– Pelayanan purna jual yang lebih baik.

– Berjalannya proses public relation (PR) yang lebih menitikberatkan pada kepuasan konsumen daripada promosi semata.

ETIKA BISNIS

Merupakan penerapan secara langsung tanggung jawab sosial suatu bisnis yang timbul dari dalam peruasahaan itu sendiri. Etika pergaulan dalam melaksanakan bisnis disebut etika pergaulan bisnis.

Perusahaan di tuntut untuk mengindahkan etika bisnis. Hal-hal pendorong dilaksanakannya etika bisnis :
a.    Dorongan dari pihak luar : lingkungan masyarakat.
b.    Dorongan dari dalam bisnis itu sendiri : sisi humanisme pebisnis yang melibatkan rasa, karsa, dan karya yang ikut mendorong diciptakannya etika bisnis yang baik dan jujur.
– Hubungan antara bisnis dengan langganan/konsumen
Merupakan pergaulan antara konsumen dengan produsen dan paling banyak ditemui.
– Hubungan dengan karyawan
Bentuk hubungan ini meliputi penerimaan (recruitment), latihan (training), promosi, transfer,
demosi maupun pemberhentian (termination).
– Hubungan antar bisnis
Merupakan hubungan yang terjadi di antara perusahaan.
– Hubungan dengan investor
Pemberian informasi yang benar terhadap investor maupun calon investor
– Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan
umumnya merupakan hubungan yang bersifat financial.

BENTUK TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Berikut ini adalah uraian yang lebih mendetail mengenai bentuk tanggung jawab sosial yang wajib dilakukan oleh sebuah perusahaan kepada masing-masing objek yang terkait.

  1. Tanggung Jawab Sosial Kepada Konsumen

Dalam dunia perdagangan dan industri, kepuasan konsumen merupakan tanggung jawab yang paling utama. Kepuasaan konsumen ini dapat tercapai dengan cara:

  • Memberikan harga sesuai dengan kualitas barang yang dijual, atau dengan kata lain, perusahaan berlaku jujur dan tidak melakukan penipuan dalam pemasaran produk.
  • Produk yang dijual merupakan produk yang sehat dan tidak mengancam kesehatan konsumen.
  • Memberikan garansi dan diskon yang sesuai pada produk yang dijual.
  1. Tanggung Jawab Sosial Kepada Karyawan

Karyawan merupakan salah satu faktor penunjang terpenting dalam perusahaan. Agar perusahaan dapat berjalan dengan baik, keharmonisan antara pihak perusahaan dengan karyawan haruslah terjaga. Oleh karena itu, pihak perusahaan haruslah memperlakukan karyawan dengan baik sesuai dengan hak mereka. Berikut ini adalah bentuk tanggung jawab yang dapat dilakukan pihak perusahaan kepada karyawan:

  • Memberikan gaji sesuai dengan jam kerja yang dihabiskan karyawan.
  • Memberikan asuransi kesehatan beserta tunjangan kepada karyawan.
  • Memberikan kenaikan gaji apabila terjadi laju inflasi di negara tempat perusahaan tersebut berdiri.
  1. Tanggung Jawab Sosial Kepada Pemegang Saham

Pemegang saham juga merupakan faktor penunjang yang penting dalam berdiri dan berjalannya suatu perusahaan karena merekalah yang memberikan modal agar perusahaan tersebut dapat terus beroperasi. Pemegang saham mendapat keuntungan melalui deviden yang diterima pada saat pelaporan keuangan perusahaan di setiap tahunnya. Berikut ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan perusahaan kepada para pemegang saham:

  • Memberikan laporan keuangan secara jujur dan transparan.
  • Tidak menggelapkan laba perusahaan dan tidak mengurangi keuntungan para pemegang saham.
  1. Tanggung Jawab Sosial Kepada Lingkungan

Selain kepada manusia yang terlibat dalam berdiri dan berjalannya sebuah perusahaan, perusahaan juga mempunyai tanggung jawab kepada lingkungan yang ada di sekitar perusahaan tersebut. Tindakan perusahaan terhada lingkungan dapat dijadikan sebuah parameter baik atau tidaknya sebuah perusahaan. Tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan perusahaan terhadap lingkungan adalah sebagai berikut:

  • Membuang limbah perusahaan dengan metode yang baik dan benar serta tidak    mencemari lingkungan sekitar.
  • Melakukan rehabilitasi yang secara tidak sengaja rusak akibat kegiatan perusahaan. (misalnya perusahaan kertas yang dalam produksinya terus-menerus menebang pohon, mereka harus menanam ulang pohon tersebut dengan pohon baru yang lebih muda).

TUJUAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

  1. Agar perusahaan dapat mendasarkan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan norma-norma moral dan etika.
  2. Agar perusahaan meluncurkan produk yang mampu memenuhi kebutuhan para penggunanya.
  3. Perusahaan menyediakan informasi dan melakukan promosi yang jujur dan faktual tentang produk yang dihasilkan.
  4. Agar perusahaan memberikan informasi mengenai komposisi, takaran manfaat, tanggal kadaluwarsa produk, kemungkinan efek samping, cara penggunaan yang tepat, kuantitas, mutu, dan harga dalam kemasan produknya untuk memungkin konsumen mengambil keputusan rasional dalam mempergunakan suatu produk.
  5. Agar perusahaan memperhatikan keselamatan dan keamanan konsumen ketika menggunakan produk tersebut.

PENERAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Tanggung jawab sosial perusahaan sering didefinisikan secara sempit sebagai akibat belum tersosialisasinya standar baku bagi perusahaan. Tanggung jawab sosial perusahaan masih anggap sebagai suatu kosmetik belaka untuk menaikkan pamor perusahaan atau menjaga reputasi perusahaan di masyarakat. Oleh karenanya ada asumsi jika perusahaan sudah memberikan sumbangan atau donasi kepada suatu institusi sosial berarti sudah melakukan tanggung jawab sosial sebagai sebuah perusahaan.

Penerapan dan isu tanggung jawab sosial perusahaan yang saat ini baru dilakukan diantaranya adalah :

  1. Pengaruh dari globalisasi dan internasionalisasi yang memaksa perusahaan untuk dapat menerapkan fungsi tanggung jawab sosial perusahaan. Bentuk globalisasi dan internasionalisasi ini dapat berupa tekanan dari pihak ketiga (distributor, buyer, client, dan shareholder) yang menjadi bagian atau mitra kerja dari perusahaan lokal. Mereka dapat menetapkan suatu kondisi yang harus diikuti oleh perusahaan lokal dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya. Kondisinya ini biasanya dialami oleh perusahaan yang berada di negara miskin dan berkembang dimana memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi kepada investor dari negara maju.
  1. Ditinjau dari jenis perusahaan, umumnya yang menjalankan fungsi tanggung jawab    sosial adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha ekplorasi alam (tambang, minyak, hutan). Perusahan tambang lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat dibandingkan dengan perusahaan non tambang (terutama LSM). Perusahaan tersebut diwajibkan untuk melakukan penyeimbangan sebagai dampak dari eksplorasi yang dilakukan seperti melakukan reklamasi alam, reboisasi, mendukung pencinta alam, berpartisipasi dalam pengolahan limpah dan sebagainya.
  1. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang biasanya dilakukan adalah pemberian   fasilitas kepada para pekerja atau buruh. tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para buruh didasarkan sebagai suatu negosiasi antara manajemen dengan para buruh.
  1. Bentuk lainya dari tanggung jawab sosial perusahaan sebatas pemberian sumbangan,  hibah, bantuan untuk bencana alam yang sifatnya momentum. Musibah, bencana, atau malapetaka yang terjadi dapat dijadikan sebagai momentum bagi perusahaan yang membentuk citra dan reputasi baik di mata masyarakat.

DAMPAK TANGGUNG JAWAB TERHADAP ETIKA BISNIS

Hasil Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) di antara 25.000 responden dari 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktik terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan. Sedangkan bagi 40% lainnya, citra perusahaan & brand image-lah yang akan paling memengaruhi kesan mereka.

Hasil survey ini menunjukan bahwa tanggung jawab sosial sangat berperan dalam pembentukan opini sebesar 60% dan salah satunya merupakan etika bisnis. Tanggung jawab sosial perusahaan sangat mempengaruhi kinerja segala aspek misalnya lingkungan, karyawan sehingga mendorong etika bisnis dalam perusahaan tersebut.

Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR bukanlah sekedar kegiatan amal, melainkan CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup.

SUMBER :  https://aanmasjumam.wordpress.com/2015/01/22/tanggung-jawab-perusahaan/

http://diahkataya.blogspot.co.id/2015/12/dampak-tanggung-jawab-sosial-perusahaan.html

http://putrifenia.blogspot.co.id/2015/12/dampak-tanggung-jawab-sosial-perusahaan_27.html

 

PERAN ETIKA BISNIS TERHADAP KOMPETISI PADA PASAR EKONOMI GLOBAL

Sebagaimana sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa etika bisnis sangat diperlukan bagi seluruh perusahaan atau suatu badan usaha. Etika bisnis tersebut bermaksud untuk membatasi perilaku atau kegiatan suatu perusahaan. Beretika tidak hanya untuk berperilaku antar sesama indvidu, namun dalam menjalankan suatu kegiatan di perusahaan, maka kita juga harus beretika. Ketika kita beretika, maka usaha yang akan dilaksanakan tersebut juga akan berjalan dengan baik.

Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005).

Etika Bisnis adalah Suatu kode etik perilaku Pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan bisnis.

Etika adalah suatu komitmen untuk melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang tidak benar.

Beretika dalam bisnis juga memberikan manfaat yang cukup banyak bagi suatu perusahaan, seperti :

  1. Bermanfaat sebagai pemodan perilaku.
  2. Bermanfaat sebagai identitas suatu perusahaan.
  3. Visi dan Misi perusahaan jelas.
  4. Membatasi peran perusahaan.
  5. Dapat meningkatkan kredibilitas.
  6. Dapat membantu menghilangkan grey area (kawasan kelabu) di bidang etika.
  7. Bagi perusahaan yang sudah go public, dapat memperoleh manfaat berupa meningkatnya kepercayaan para investor.
  8. Membangun corporate image.
  9. Dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang..
  10. Untuk menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya.

Cara mempertahankan standar etika :

  1. Menciptakan kepercayaan perusahaan
  2. Jalankan kode etik
  3. Lindungi hak perorangan
  4. Adakan pelatihan etika
  5. Lakukan audit etika secara periodik
  6. Pertahankan standar yang tinggi tentang tingkah laku, jagan hanya aturan
  7. Hindari contoh etika yang tercela
  8. Ciptakan budaya komunikasi dua arah

Perusahaan bertanggungjawab atas beberapa faktor, seperti :

  1. Tanggung jawab terhadap lingkungan
  2. Tanggung jawab terhadap karyawan
  3. Tanggung jawab terhadap investor
  4. Tanggung jawab terhadap pelanggan
  5. Tanggung jawab terhadap masyarakat

Dengan beretika, maka akan membawa perusahaan menjadi Good Corporate Culture. Yang artinya adalah perusahaan akan terus diterima keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Perusahaan akan menjalin hubungan yang baik dengan para masyarakat sekitar. Karna dalam menjalankan tugas atau kegiatan, perusahaan tersebut akan mengikutsertakan masyarakat sekitar dalam hal memberikan informasi tentang usaha yang dijalankan. Hubungan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar juga sangat diperlukan dalam kelangsungan hidup perusahaan.

  • Alasan Atas Kode Etik :
  1. Meningkatkan kepercayaan publik pada bisnis.

2.Berkurangnya potensial regulasi pemerintah yang dikeluarkan sebagai aktivitas kontrol.

  1. Menyediakan pegangan untuk dapat diterima sebagai pedoman.
  2. Menyediakan tanggungjawab atas prilaku yang tak beretika.

Etika Bisnis di Era Globalisasi

Bisnis merupakan sebuah kegiatan yang telah mengglobal. Setiap sisi kehidupan diwarnai oleh bisnis. Dalam lingkup yang besar, Negara pastinya terlibat dalam proses bisnis yang terjadi. Tiap-tiap Negara memiliki sebuah karakteristik sumber daya sendiri sehingga tidak mungkin semua Negara merasa tercukupi oleh semua sumber daya yang mereka miliki. Mulai dari ekspedisi Negara Eropa mencari rempah-rempah di Asia sampai perdagangan minyak Internasional merupakan bukti bahwa dari dulu sampai sekarang sebuah Negara tidak dapat bertahan hidup tanpa keberadaan bisnis dengan Negara lainnya. Dewasa ini, pengaruh globalisasi juga menjadi faktor pendorong terciptanya perdagangan internasional yang lebih luas. Kemajemukan ekonomi dan sistem perdagangan berkembang menjadi sebuah kesatuan sistem yang saling membutuhkan. Ekspor-Impor multinasional menjadi sesuatu yang biasa. Komoditi nasional dapat diekspor menjadi pendapatan Negara, serta produk-produk asing dapat diimpor demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Setiap Negara terus mengeksplorasi bisnis ke luar negeri selain untuk mendapatkan yang mereka inginkan, juga menaikkan tingkat ekonomi yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa Bisnis multinasional merupakan kesempatan untuk meraih pundi-pundi uang demi meningkatkan tingkatan ekonomi, terutama Negara berkembang yang rata-rata memiliki nilai tukar mata uang yang rendah. Developing country mendapat keuntungan dengan kemudahan untuk mengekspor barang domestiknya ke luar dan kemudahan untuk mendapatkan investor asing sebagai penanam dana bagi usaha-usaha dalam negeri. Sedangkan developed country lebih mudah dalam mendapatkan barang/jasa yang mereka inginkan.

Ada kesempatan yang terbuka lebar maka pasti ada persaingan untuk mendapatkannya. Berikut ini ada dua macam keuntungan yang dapat digunakan sebagai modal untuk meraih keberhasilan:

  1. a)      Keuntungan absolut, disaat sebuah Negara dapat memproduksi sesuatu produk yang lebih murah dan/atau kualitas yang lebih tinggi dari Negara lain. Contohnya Indonesia memiliki keunggulan karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah seperti minyak. Sehingga Indonesia dapat menjual minyak lebih murah.
  2. b)      Keuntungan komparatif, disaat sebuah Negara memproduksi barang dengan lebih efisien atau lebih baik daripada Negara lain yang memproduksi barang yang sama. Contohnya produsen mobil sport Ferrari dalam penggunaan teknologi terpadu pada pembuatan mobil balap.

Tidak semua kesempatan bisnis global dapat langsung digunakan. Terdapat beberapa halangan yang dapat menghadang perdagangan internasional seperti perbedaan sosial dan budaya, perbedaan ekonomi dan perebedaan hukum dan politik. Perusahaan harus mampu menyikapi barrier tersebut

Selain social budaya, ekonomi dan hukum-politik, yang perlu diperhatikan oleh perusahaan adalah Etika Bisnis. Etika bisnis adalah perilaku baik atau buruk berdasarkan kepercayaan perseorangan dan norma sosial dengan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Kode Etik yang ada bersumber dari pandangan anak-anak ke perilaku orang dewasa, pengalaman, perkembangan nilai serta moral, dan pengaruh kawan.

Tujuan diciptakanya kode etik adalah:

  1. Meningkatkan kepercayaan publik pada bisnis.
  2. Berkurangnya potensial regulasi pemerintah yang dikeluarkan sebagai aktivitas kontrol.
  3. Menyediakan pegangan untuk dapat diterima sebagai pedoman.
  4. Menyediakan tanggungjawab atas prilaku yang tak ber-etika.

Tanggung jawab sosial juga merupakan juga hal yang penting. Tanggung jawab sosial adalah sebuah konsep dimana sebuah perusahaan terhubung dengan sosial dan lingkungan sekitar dalam hal proses bisnis dan interaksi perusahaan dengan stakeholdernya. Tanggung jawab sosial dunia bisnis tidak saja berorientasi pada komitmen sosial yang menekankan pada pendekatan kemanusiaan, belas kasihan, keterpanggilan religi atau keterpangilan moral, dan semacamnya, tetapi menjadi kewajiban yang sepantasnya dilaksanakan oleh para pelaku bisnis dalam ikut serta mengatasi permasalahan sosial yang menimpa masyarakat.

            Etika Bisnis dalam Persaingan

Dalam bisnis akan terjadi persaingan yang sangat ketat kadang-kadang menyebabkan pelaku bisnis menghalalkan segala cara untuk memenangkannya, sehingga yang sering terjadi persaingan yang tidak sehat dalam bisnis. Persaingan yang tidak sehat ini dapat merugikan orang banyak selain juga dalam jangka panjang dapat merugikan pelaku bisnis itu sendiri.

Aspek hukum dan aspek etika bisnis sangat menentukan terwujudnya persaingan yang sehat. Munculnya persaingan yang tidak sehat menunjukkan bahwa peranan hukum dan etika bisnis dalam persaingan bisnis ekonomi belum berjalan sebagaimana semestinya.

Dari segi etika bisnis, hal ini penting karena merupakan perwujudan dari nilai-nilai moral. Pelaku bisnis sebagian menyadari bahwa bila ingin berhasil dalam kegiatan bisnis, ia harus mengindahkan prinsip-prinsip etika. Penegakan etika bisnis makin penting artinya dalam upaya menegakkan iklim persaingan sehat yang kondusif. Sekarang ini banyak praktek pesaing bisnis yang sudah jauh dari nilai-nilai etis, sehingga bertentangan dengan standar moral. Para pelaku bisnis sudah berani menguasai pasar komoditi tertentu dengan tidak lagi mengindahkan sopan-santun berbisnis. Keadaan ini semakin krusial sebagai akibat dari sikap Pemerintah yang memberi peluang kepada beberapa perusahaan untuk menguasai sektor industri dari hulu ke hilir.

            Persaingan usaha dalam Bisnis

Persaingan hanya terjadi pada system dunia yang bebas. Hal ini merupakan faktor yang paling penting dalam memajukan perekonomian. Dalam bahasa Inggris persaingan disebut “competition” , Marshaal Howard berpendapat bahwa persaingan merupakan istilah umum yamg dapat digunakan untuk segala sumber daya yang ada. Persaingan adalah jantungnya perekonomian pasar bebas.

Produsen harus memenuhi keinginan konsumen dalam pelayanan yang lebih efisien dan mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari pesaingnya. Produsen akan memperoleh keuntungan dari konsumen apabila ia mampu melayani konsumen secara efisien, dan sebaliknya apila ia tidak mampu, maka ia akan mengalami kerugian dan kebangkrutan.

Adanya persaingan dalam bidang industry akan memaksa para pesaing bisnis untuk menghasilkan barang-barang berkualitas. Perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan efisien akan memperoleh keuntungan yang besar dan tetap hidup. Sedangkan perusahaan yang tidak efisien akan mengalami kekalahan dalam bersaing sehingga lama-kelamaan akan bangkrut. Adanya persaingan akan memberikan peluang bisnis, yaitu pasar bebas, dimana tidak ada larangan-larangan atau batasan-batasan bagi perusahaan untuk keluar atau masuk dari pasar.

Menurut Marshall, manfaat umum dari proses persaingan ekonomi adalah terbentuknya harga yang semurah mungkin bagi barang dan jasa yang disertai adanya bentuk pilihan maupun kualitas barang dan jasa yang diinginkan. Dalam hal demikian, banyak produsen yang member kontribusi pada perdagangan atau pasar. Dan harga-harga yang bersaing ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Jika sejumlah penjual yang mau menjual sama dengan jumlah pembeli yang mau membeli, maka disini adalah sisi positif dari persaingan bisnis. Sedangkan sisi negatifnya adalah ketika terjadi persaingan yang mutlak, dimana masing-masing perusahaan hanya menginginkan keuntungan sebesarnya-sebesarnya.

Dalam keadaan seperti itu, akan timbul ketidakmerataan keuntungan dan hasil pendapatan. Pengusaha dengan modal kecil akan tersisih dengan sendirinya. Dalam hal ini para pelaku ekonomi berhasrat menguasai berbagai sector industry sekaligus, mulai dari industri hulu sampai industri hilir.

Iklim persaingan yang demikian akan menyebabkan persaingan yang tidak sehat. Disini persaingan sesama usaha akan semakin ketat dan cenderung tidak jujur, ditambah dengan tidak adanya paranata hukum yang membatasi kegiatan bisnis. Sehubungan dengan berlangsungnya era globalisasi, maka persaingan harus transparan dan mengandalkan profesionalisme.

 

Keuntungan dan Etika

Perlu digaris bawahi bahwa sejak semula tujuan utama bisnis adalah mengejar keuntungan, atau lebih tapat, keuntungan adalah hal yang pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan tujuan satu-satunya. Sebagaimana dianut oleh pandangan bisnis yang ideal, maka dari sudut pandang etika, keuntungan bukan hal yang buruk. Bahkan secara moral, keuntungan merupakan hal yang baik, dan diterima karena, pertama, keuntungan memungkinkan suatu perusahaan bertahan dalam kegiatan bisnisnya. Kedua, tanpa memiliki keuntungan, tidak ada pemilik modal yang bersedia menanamkan modalnya, dan karena itu tidak akan menjadi aktivitas ekonomi demi memacu pertumbuhan ekonomi. Ketiga, keuntungan memungkinkan perusahaan tidak hanya bertahan tetapi juga untuk menghidupi karyawan-karyawannya, bahkan pada tingkat dan taraf hidup yang lebih baik. keuntungan yang diperoleh, perusahaan dapat terus mengembangkan usahanya yang berarti menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Dalam persaingan bisnis yang ketat, para pelaku bisa sadar betul bahwa perusahaan yang unggul bukan karena perusahaan mempunyai kinerja bisnis manajerial financial yang baik, melainkan perusahaan juga mempunyai kinerja etis dan etos yang baik.

Kedua, dalam persaingan bisnis yang ketat, para pelaku bisnis yang modern sangat sadar bahwa konsumen adalah raja. Oleh karena itu, hal yang paling pokok untuk bisa untung dan bertahan dalam pasar yang penuh persaingan adalah sejauh mana suatu perusahaan bisa merebut dan mempertahankan kepercayaan konsumen. Ini bukan merupakan hal yang mudah.

Karena dalam pasar yang penuh dengan persaingan dan pasar yang bebas dan terbuka, dimana ada beragam barang dan jasa ditawarkan dengan harga dan mutu yang kompetitif, sekali konsumen dirugikan, maka mereka akan berpaling dari perusahaan tersebut.

Yang paling pokok, adalah para pelaku bisnis modern sadar betul bahwa kepecayaan konsumen hanya mungkin dijaga dengan memperhatikan citra bisnisnya sebagai bisnis yang baik dan etis. Termasuk didalamnya adalah pelayanan, tanggapan terhadap keluhan konsumen, hormat pada hak dan kepentingan konsumen, menawarkan barang dan jasa dengan mutu yang baik dan harga yang sebanding., tidak menipu konsumen dengan iklan bombastis dan seterusnya.

Hal ini kini benar-benar oleh perusahaan-perusahaan yang memang ingin membangun sebuah kerajaan bisnis bertahan lama, mereka sadar bahwa kini konsumen sangat kritis dan tidak mudah dibohongi.

Ketiga, dalam system pasar terbuka dengan peran pemerintah yang bersifat netral dan berpihak tetapi secara efektif menjaga agar kepentingan dan hak dari semua pihak dijamin. Para pelaku bisnis berusaha sebaik mungkin untuk menghindarkan campur tangan pemerintah, karena baginya akan mengganggu kelangsungan bisnisnya. Salah satu cara yang paling efektif untuk keperluan itu adalah dengan cara menjalankan bisnisnya secara baik dan etis, yaitu dengan menjalankan bisnis sedemikian rupa tanpa sengaja merugikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam bisnisnya. Asumsinya adalah, jika sampai terjadi ia menjalankan bisnisnya dengan merugikan pihak tertentu, maka pemerintah yang tuhasnya adalah menjaga dan menjamin hak dan kepentingan semua pihak tanpa terkecuali, dan ini kita andaikan dijalankan secara konsekuen akan serta merta turun tangan mengambil tindakan tertentu untuk menertibkan praktek bisnis yang tidak baik itu. Termasuk dalam tindakan tersebut, adalah larangan atau pencabutan ijin usaha perusahaan tersebut yang mana akan fatal bagi nasib perusahaan tersebut. Jadi, dari pada melakukan bisnis yang melanggar kepentingan, para pelaku bisnis berusaha sedapat mungkin untuk secara proaktif berbisnis secara baik dan etis. Paling kurang ini adalah tuntutan dari dalam perusahaan tersebut demi kelangsungan perusahaan itu, demi mendapat keuntungan yang menjadi tujuan pokok bisnis.

Keempat, perusahaan modern juga semakin menyadari bahwa karyawan bukanlah tenaga yang siap dieksploitasi demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Justru sebaliknya, karyawan dianggap sebagai subyek utama dari bisnis suatu perusahaan yang sangat memungkinkan berhasil tidaknya perusahaan tersebut.

Dalam bisnis yang penuh persaingan ketat, karyawan adalah orang-orang professional yang tidak mudah diganti. Karena penggantian tenaga professional akan merugikan perusahaan dari segi financial, waktu, energy, irama kerja perusahaan, team work dan seterusnya. Dengan demikian yang paling ideal bagi perusahaan modern adalah bagaimana menjaga dan mempertahankan tenaga kerja professional yang ada daripada membiarkan mereka pergi dan mengundurkan diri.

 

Kesimpulan

Dari pengertian etika ekonomi kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya etika seorang pembisnis itu sangat lah penting karena untuk menjalankan perekonomian di dunia khusunya di negara kita Indonesia yang saat ini perekonomianya sedang terpuruk. Etika seseorang itu mengambarkan watak,sifat dan tingkah laku seseorang,oleh karena itu para pemmbisnis harus betul-betul mempelajari tentang etika ekonomi dan bisnis, karena tanpa etika bisnis maka korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) akan tetap marak dan menghalangi pemulihan ekonomi dan bisnis di berbagai negara berkembang dan atau negara miskin. Karena itu, makin berkembang kegiatan bisnis, maka etika bisnis juga makin diperlukan. Keperluan terhadap etika bisnis saat ini ditandai dengan berkembangnya lembaga-lembaga kajian, penerbitan jurnal dan buku serta penyelenggaraan pertemuan-pertemuan ilmiah tentang etika bisnis di berbagai belahan dunia. Akibatnya pemikiran etika bisnis dengan sendirinya juga berkembang pesat.

Saran

Etika ekonomi dan bisnis itu harus di tegakkan karena itu sangat lah penting bagi perekonomian didunia,khususnya di Indonesia,banyak para pembisnis sekarang belum mengerti tentang etika dan banyak pelangaran yang di lakukan para pembisnis dalam melakukan bisnisnya. Dengan hasil pembelajaran ini kita harapkan para peninggi perusahaan besar tidak memetikan perusahaan yang kecil.

 

 

Sumber :

https://hosniaadiranata.wordpress.com/2016/01/02/peran-etika-bisnis-terhadap-kompetisi-pada-pasar-ekonomi-global/

http://nabillahabsyiah.blogspot.co.id/2013/12/peranan-dan-manfaat-etika-bisnis-di.html

http://trisultanefendi.blogspot.co.id/2013/01/etika-bisnis-dalam-lingkup-globalisasi.html

http://ekonomibisnispancasila.blogspot.co.id/2015/04/pentingnya-etika-dalam-ekonomi-dan.html